7 Penyebab Anak-Anak Melakukan Bullying

7 Penyebab Anak-Anak Melakukan Bullying

7 Penyebab Anak-Anak Melakukan Bullying

7 Penyebab Anak-Anak Melakukan BullyingBullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Bullying sudah muncul sejak dulu tapi kembali lagi muncul menjadi permasalahan di Indonesia sekarang ini. Remaja ABG merupakan pelaku sekaligus korban yang paling rentan melakukan dan terkena bullying.

Bullying ini awalnya mungkin hanya untuk seru-seruan. Namun, jangka panjangnya, bullying dapat memberikan dampak terhadap korban, mulai dari gangguan psikologis, trauma, bahkan tidak mau bergaul dan lebih parahnya lagi ingin mengakhiri hidupnya.

Mungkin, di antara kita pernah mengenal seseorang yang suka banget melakukan bullying. Yuk ketahui penyebab anak melakukan tindakan bullying ini.

  1. Kurang perhatian

    Rendahnya keterlibatan serta perhatian orang tua kepada anak membuat anak jadi suka mencari perhatian di lingkungan sekitarnya. Ada yang memilih untuk berprestasi dan menunjukan kemampuannya demi mendapatkan perhatian. Namun, sayangnya, ada juga yang mengambil jalan untuk melakukan bullying serta membuat onar bahkan keributan demi mendapatkan perhatian orang tuanya. Hal ini sangat penting diperhatikan bagi kamu yang akan menjadi orang tua agar selalu menjaga kadar perhatian kepada sang buah hati dengan memberikan perhatian yang cukup.

  2. Ingin berkuasa

    Anak yang suka melakukan tindakan bullying biasanya sedang menunjukan kekuasaan dan kekuatannya demi mendapatkan pengakuan dari sekitar dengan menindas yang lemah dan menginginkan anak lain untuk mengikutinya di bawah tekanan rasa takut. Kalau kamu melihat orang yang arogan, bersikap bossy, bisa jadi dia suka menindas orang lemak dan anak yang tidak mau menurut dengannya.

  3. Pola asuh dalam keluarga

    Tak salah jika banyak yang mengatakan bahwa keluarga adalah faktor utama permasalahan yang terjadi pada anak karena keluarga merupakan pendidik pertama dan utama. Sikap bullying adalah merupakan pengembangan dari sikap anak yang agresif. Mereka yang mengembangkan perilaku agresif tumbuh dalam pengasuhan yang tidak kondusif, mulai dari kedekatan yang tidak aman dengan pengasuhnya, tuntutan disiplin yang terlalu tinggi dari orang tuanya dan bahkan masalah hubungan kedua orang tuanya: konflik suami-istri, depresi, antisosial dan bahkan melakukan tindakan kekerasan di rumah.

    Hal tersebut akan menyebabkan si anak merasa pelampiasan terhadap tekanannya tersebut. Nah, depresi ini bisa jadi dilampiaskan kepada teman yang lemah.

  4. Ekspos kekerasan dari media

    Tak dapat dipungkiri bahwa media memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, media juga menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Mulai dari televisi, surat kabar dan bahkan media online mengandung topik yang berkembang begitu pesat. Jangan heran, tindak kekerasan juga banyak dimunculkan di media, seperti adegan dalam sinetron atau reality show yang menyuguhkan adegan kekerasan, bullying, game atau melalui sosial media. Pada dasarnya, anak-anak yang masih dalam tahap belajar serta memiliki rasa penasaran tinggi akan mengikuti atau menirukan hal-hal yang mereka lihat tersebut tanpa menyaringnya.

    Makanya, sebagai orang yang sudah cukup dewasa, ada baiknya kamu ikut berperan mengawasi adik, keponakan atau saudaramu yang masih kecil saat mengonsumsi media.

  5. Pernah jadi korban kekerasan

    Umumnya, anak yang pernah menjadi korban kekerasan memiliki keinginan untuk membalas apa yang pernah didapatkannya. Kekerasan tersebut bisa didapatkan dari orang tua atau menjadi korban orang asing. Kekerasan yang didapat dari orang tua bisa jadi sebagai bentuk pendisiplinan dari orang tua terhadap anak dan sang anak tidak diperkenankan untuk melawan orang tua. Akhirnya, karena tidak memiliki kekuatan untuk membalas, sang anak hanya memendam perasaan tersebut dan membalaskan dendamnya kepada orang lain.

  6. Riwayat berkelahi

    Anak yang hidup dalam lingkungan yang menyimpang dari norma, misalnya lingkungan yang sering berkelahi atau bermusuhan akan lebih mudah meniru perilaku lingkungan tersebut dan tidak merasa bersalah saat melakukan hal yang sama. Bahkan, si anak bisa cenderung merasa itu biasa saja dan tidak merasa bersalah atau melanggar norma. Hal ini dilakukan demi menunjukan kepada orang lain bahwa mereka merupakan golongan superior, berkuasa dan bisa mendapatkan pujian dari banyak orang.

  7. Faktor pubertas dan krisis identitas

    Faktor utama yang mencakup semua permasalahan yang telah disebutkan adalah faktor pubertas. Pubertas dan krisis identitas adalah hal yang normal terjadi di kalangan remaja. Dalam tahap mencari identitas dan juga eksistensi, biasanya para remaja hobi membentuk geng. Namun, ada geng yang normal, ada juga geng yang suka membuat onar dan melakukan hal-hal menyimpang. Biasanya, ada juga yang ingin menjadi kepala geng dengan mem-bully anggota gengnya demi mendapatkan kekuasaan yang ia inginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *