9 Dampak Negatif Terlalu Memanjakan Anak yang Patut Diketahui Orang Tua

9 Dampak Negatif Terlalu Memanjakan Anak yang Patut Diketahui Orang Tua

Memberi perhatian kepada anak adalah hal yang wajar dan memiliki banyak dampak positif bagi hubungan antara orang tua dengan buah hatinya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa ketika orang tua memberi perlakuan berlebihan pada anaknya justru bisa memicu munculnya karakter negatif pada pribadi anak, misalnya saja munculnya karakter “manja” pada diri anak.

Apa saja dampak negatif yang bisa muncul jika terlalu memanjakan anak? berikut ulasannya:

  1. Anak akan kesulitan menjadi pribadi yang mandiri

    Anak yang terbiasa mendapat perlakuan yang istimewa dari orang tuanya, biasanya anak akan sulit untuk menjadi pribadi yang mandiri, karena selalu mendapat kemudahan atau bantuan dari orang tuanya, alhasil karakter mandiri akan sulit ditumbuhkan pada pribadi anak. Salah satu solusinya, ikutkan anak dalam berbagai kegiatan, baik di sekolah (ekstrakulikuler, kelompok belajar, pelatihan kepemimpinan), maupun di luar sekolah… maka kemungkinan besar karakter manja pada diri anak bisa diminimalisir, namun mengubah karakter seorang anak memang butuh waktu yang tidak sebentar, butuh kesabaran serta konsistensi.

  2. Sulit mengembangkan kemampuannya

    Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan anak adalah dengan menempatkan anak pada posisi yang terdesak, misalnya dengan memberikan TANTANGAN pada anak, mengajak anak melakukan petualangan, memberi tugas yang berat (namun tetap proporsional).
    Berbanding terbalik dengan perlakuan yang biasa diberikan kepada anak manja karena rasa khawatir yang berlebihan membuat orang tua meminimalisir tantangan dan gangguan pada anaknya, alhasil anak selalu dibuat menikmati zona nyaman (comfort zone) yang justru dapat membelenggu kemampuan anak.

  3. Selalu bergantung pada orang lain

    Perilaku anak yang sudah terbiasa dimanja adalah memiliki rasa ketergantungan yang tinggi pada orang lain. Mungkin tidak menjadi masalah jika anak tersebut masih bersama orangtuanya, namun ketika anak tersebut sudah berada dalam lingkungan masyarakat atau sekolah, maka akan jelas terlihat bahwa anak yang manja akan sulit berkembang. Karakter manja pada diri anak juga bisa memicu munculnya sikap negatif lainnya seperti sikap cengeng dan egois

  4. Tidak bisa menerima kekalahan

    Anak yang telah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, takkan mau menerima kekalahan. Padahal saat anak telah duduk di bangku sekolah atau setelah menjadi bagian dari masyarakat, anak akan dihadapkan dengan berbagai macam kompetisi yang hanya menawarkan dua pilihan yakni menang atau kalah. Sehingga realita akan membuat anak yang manja itu mengalami banyak kekecewaan dan shock berat.

  5. Sulit berteman

    Sikap manja, cengeng dan egois akan mengganggu interaksi dengan teman sejawatnya. Pribadi seperti itu akan membuat anak sulit mendapatkan teman yang mampu menerima karakternya. Alhasil ketika sulit dalam mendapatkan teman, membuat anak tersebut menjadi sosok ‘individualis’ (mementingkan diri sendiri)

  6. Mudah menyerah ketika dihadapkan pada masalah dan rintangan

    Anak yang manja biasanya kurang diajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu butuh perjuangan dan kerja keras. Anak yang terbiasa dimanja akan mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara mudah dan instan. jadi jangan heran ketika anak yang berkarater manja dihadapkan pada hal-hal yang menantang atau dihadapkan pada masalah, anak tersebut akan mudah menyerah.

  7. Lebih tertarik dengan cara instan

    Dampak negatif lainnya yang timbul akibat terlalu memanjakan anak adalah membuat anak memiliki kecenderungan untuk menempuh jalan pintas demi mendapatkan apa yang dia harapkan, misalnya saja ketika hendak ujian, anak akan lebih memilih untuk menyontek pekerjaan temannya ketimbang harus bersusah payah belajar atau ketika diberi tugas oleh gurunya, anak akan lebih memilih agar orang tuanyalah yang mengerjakan tugas itu.

  8. Berdampak kurang baik pada karakter anak setelah dewasa

    Pembentukan karakter anak pada usia dini ibarat pondasi yang akan menopang sikap dan perilaku anak ketika telah tumbuh dewasa kelak. Apabila ketika usia kanak-kanak seseorang terbiasa dimanja, maka kemungkinan besar setelah anak tumbuh dewasa sikap tersebut akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

    Anak yang memiliki karakter manja masih dalam kategori wajar akan tetapi ketika ketika yang orang dewasa masih bersikap manja, inilah yang memperihatinkan, karena usia dewasa adalah fase dimana seseorang bukan lagi menjadi beban bagi orang lain namun sebaiknya bisa menjadi solusi dari masalah orang lain.

  9. Kurang menghargai orang tuanya kelak

    Selama segala kebutuhan dan keinginannya dapat terpenuhi, mungkin sikap dan perlakuan pada orangtuanya masih wajar-wajar saja, akan tetapi ketika apa yang dia minta atau inginkan tidak dapat diberikan, maka Anda akan melihat sisi lain dari anak manja. Bisa jadi sikapnya akan berbanding terbalik dengan bentuk kasih sayang yang selama ini diberikan orang tuanya.

INGIN TAU LEBIH BANYAK TENTANG PENDIDIKAN ANAK DI FIKAR SCHOOL..?

Info
Ariq Habibi: 087788559441

www.fikarschool.sch.id
www.fikarschool.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *