Agar Anak Berani Tampil di Pentas

Agar Anak Berani Tampil di PentasPsikolog anak Roslina Verauli mengatakan kepercayaan diri anak tidak tumbuh dalam sekejap. Orang tua perlu melatihnya jauh hari sebelum kesempatan tampil itu datang. “Bahkan, prosesnya bisa dimulai sejak anak masih berusia empat tahun.”

Jika itu dilakukan, ketika anak berada di usia Sekolah Dasar, mereka akan siap naik pentas. “Anak bisa percaya diri jika ia memiliki penilaian atau penghayatan tentang dirinya (self esteem) yang positif,” papar psikolog yang akrab disapa Vera ini.

Anak yang memiliki self esteem akan mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk saat hendak tampil dalam teater sekolah. Untuk itu, diperlukan latihan yang rutin dan berulang. Latihan hendaknya berlangsung di sekolah ataupun di rumah.

Setelah anak berlatih, anak bisa melihat bagaimana penilaian dari orang tua ataupun orang sekitar tentang penampilannya. Anak juga dapat membandingkan penampilannya dengan temannya. Lihat pula apakah saat bermain teater, anak gampang atau sukar melakoninya. Perhatikan, apakah anak lebih banyak ditegur atau malah lebih banyak dipuji.

Pengalaman naik pentas akan membangun semangat positif anak. Anak akan menjadi kom peten dan percaya diri. “Kepercayaan diri anak juga dipengaruhi oleh harapan orang tua terhadap anak,” kata Vera. Sebaiknya, jika anak mengikuti lomba teater, orang tua tidak memberi tekanan pada anak dengan keharusan menjadi juara.

Dukunglah anak untuk melakukan yang terbaik dalam pementasan tersebut. “Katakan pada anak, apa yang kamu lakukan saat latihan sudah baik dan harus lebih baik lagi saat naik pentas,” kata Vera memberi contoh pemberian semangat bagi anak.

Orang tua harus menjadi agen pendukung (supporting agent) bagi anak. Ini penting, agar anak merasa mendapat suntikan motivasi. “Ayah dan ibu perlu memahami kegiatan anak sehingga bisa berdiskusi dengan anak dan paham kemajuan anak serta bisa membedakan yang mana minat dan bakat anak,” ujar Vera.

Selain itu, anak akan percaya diri jika ia memiliki pemahaman yang cukup terhadap pertunjukkan yang akan ia mainkan bersama teman-temannya. Ia mesti mengerti perannya dalam lakon tersebut, termasuk watak dan karakter tokoh yang dimainkannya. “Jika anak sudah memahaminya, anak akan tampil lebih baik lagi,” tutur Vera. Selanjutnya, anak tinggal berserah diri. Sebaiknya anak-anak berdoa bersama dengan teman-teman yang akan naik ke panggung. Dengan begitu, anak merasa terlibat dalam pentas tersebut.

Jika anak melewatkan tahapan-tahapan tersebut, maka anak tidak akan memiliki kepercayaan diri seperti yang diharapkan orang tua. Anak akan malu naik panggung, bahkan bisa saja ia menangis. “Ini karena anak dipaksa tampil tanpa penghayatan positif tentang dirinya, ekspektasi orang tua terlalu berat, dan pemahamannya kurang,” ucap Vera.

Bagaimana jika sekolah mewajibkan murid-muridnya bermain teater? Menurut Vera ini akan berbeda jadinya. Anak tidak akan bermasalah dengan kepercayaan dirinya, karena ia akan bermain teater bersama seluruh teman kelasnya yang sudah dikenalnya cukup lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *