Agar Anak Curhat kepada Orang Tuanya

Agar Anak Curhat kepada Orang tuanya Bukan Yang Lain

Agar Anak Curhat kepada Orang Tuanya Agar Anak Curhat kepada Orang Tuanya  –  Ketika anak remaja sedang galau, ingin ‘curhat’… kepada siapakah mereka akan curhat? Kepada orang tuanya kah..? Hmmm, yakin..?

Ternyata anak remaja cenderung curhat kepada teman-teman sebayanya daripada kepada orang tuanya, dan hal ini tentu saja membuat cemas orang tua. Mereka khawatir teman si anak remajanya memberi nasehat yang belum tentu benar, bahkan menyesatkan. Lantas, bagaimana caranya agar si anak remaja mau curhat ke orang tuanya?

Dikutip dari familyshare, ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua agar anak remajanya mau berbagi cerita tentang masalah yang dihadapi:

  1. Cobalah ibu atau ayah bercerita pada anak remajanya tentang masa lalunya, saat masih usia remaja. Remaja Anda memang tidak harus tahu semua tentang masa muda ibunya. Tetapi dengan menceritakan sedikit, mereka berpikir tidak akan pernah salah bercerita kepada orangtua sendiri.
  2. Jika sudah tahu masalah yang dihadapi anak remajanya, cobalah orang tua memberi masukan untuk menyelesaikan masalah itu. Beberapa masalah remaja tampak sepele, tetapi mungkin saja berat bagi mereka.
  3. Orang tua sangat perlu untuk sering-sering bersama dengan anak remajanya. Berbicara hal-hal yang sepele dan ringan terkadang membantu menciptakan hubungan yang lebih erat.
  4. Apabila anak remaja Anda mengakui telah melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya jangan reaktif dan memarahi anak remajanya. Tak peduli seberapa marah atau kecewanya, lupakan kemarahan, tetapi fokuslah pada jalan keluar dari masalah.

Banyak anak remaja yang masih enggan curhat dengan orang tuanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebelum kita mengoreksi anak, mungkin ada baiknya juga kalau kita mengoreksi diri kita selama ini. Disadari atau tidak, ada sejumlah gaya orangtua yang tidak kondusif untuk mendorong anak-anak untuk curhat kepada orangtuanya. Di antara gaya itu adalah:

  • Judgmental: kita menghakimi mereka. Mereka salah dan kita yang benar atau temannya yang benar. Gaya ini bisa membuat enggan untuk curhat lagi. Akan lebih bagus kalau kita melakukan eksplorasi, misalnya bertanya apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, dan seterusnya. Setelah itu barulah kita memberikan opsi, solusi atau motivasi.
  • Emosional: kita mengeluarkan reaksi yang berlebihan sehingga anak “merasa bersalah” atas reaksi kita. “Waduh, nyesel saya bilang sama orangtua kalau akhirnya begini”, mungkin begitu di dalam hatinya. Akan lebih bagus kalau kita tahan dulu sambil mencari informasi dan bukti. Yang penting lagi, mengarahkan anak menghadapi masalah seperti itu, plus mendorongnya untuk menceritakan ini kepada orangtua supaya bisa diselesaikan.
  • Careless: kita kurang peduli atau kurang memperhatikan curhat mereka. Bentuknya antara lain: memotong atau mengalihkan isu pembicaraan, menganggap itu tidak penting, atau menunjukkan sikap yang meremehkan. Jika dia mendapatkan orang lain (teman atau siapa saja) yang ternyata lebih peduli dan perhatian, pasti dia lebih suka ke mereka ketimbang ke kita.
  • Membocorkan rahasia. Misalnya dia bercerita tentang persoalan yang sangat pribadi, tetapi kita membocorkannya ke anggota keluarga yang lain. Ini juga sering membuat anak jera curhat sama kita.
  • Membosankan. Gaya berkomunikasi yang membosankan itu antara lain: terlalu diam, terlalu banyak bicara, terlalu itu-itu saja yang kita kasih nasehat. Supaya tidak membosankan, variasi sangat diperlukan.

Selain faktor bawaan anak (misalnya anak yang pendiam karena faktor keturunan), hambatan komunikasi antara anak dan orangtua lebih sering karena model parenting dan pola asuh.

Demikian, semoga bermanfaat.

 

(sumber: ulyadays.com)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *