Agar Anak Menjadi Mandiri dan Bisa Survive (2)

Agar Anak Menjadi Mandiri dan Bisa Survive (2); Setelah membaca artikel tentang keharusan anak untuk bisa mandiri dan mampu untuk survive, maka hal-hal apa sajakah yang harus dilakukan oleh para orangtua agar anak-anak mereka menjadi anak yang mandiri..?  Menjadi anak yang tidak manja, bisa survive, dan mampu mengandalkan diri sendiri…?  Lakukan saja hal-hal berikut ini:

  1. Menciptakan rutinitas

Jelaskan rutinitas yang terjadi setiap hari, sedini mungkin, bahkan sejak masih bayi, misalnya: “Setelah sarapan kita ganti baju untuk jalan-jalan, lalu kita kembali pulang dan setelah itu istirahat.”  Ketika anak kecil tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, mereka bisa mengantisipasi perubahan dan merasa punya kontrol.

Batita (bawah tiga tahun) bisa berinisiatif untuk aktivitas yang ia harapkan seperti mencuci tangan sebelum makan dan membawa buku untuk dibacakan sebelum tidur. Seluruh kegiatan yang menjadi rutinitas ini akan terekam dengan baik sehingga mereka tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Saat sudah hafal, mereka akan melakukannya tanpa bantuan ibu/ayahnya.

  1. Beri anak kebebasan untuk bergerak dan bereksplorasi

Anak bisa mandiri karena mereka percaya dengan kemampuan diri sendiri. Ini takkan muncul begitu saja. Biarkan anak bebas bergerak untuk bereksplorasi daripada menempatkannya di bouncer atau di depan TV.  Sebelum anak bisa berjalan, tempatkan beberapa mainan menarik di luar jangkauan agar ia tertarik bergerak meraihnya. Pastikan lingkungan (sekelilingnya) aman bagi anak ketika ia mulai merangkak dan berjalan. Anak yang banyak bergerak di lingkungannya akan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

  1. Mulai ajarkan anak untuk makan sendiri

Mengajarkan anak untuk makan sendiri bukan sekedar ingin melihat anak mandiri, tapi kita memberi pengalaman untuk mencoba. Nantinya anak dibiarkan memilih menu sendiri agar ia menjadi anak mandiri, namun menunya harus kita tentukan dulu sebelumnya: apakah sayur atau buah?  Sediakan area terjangkau untuk anak di dapur yang bisa ia akses untuk mengambil piring, sendok, dan gelas (namun agar lebih aman, pastikan bahwa peralatan makan & minum mereka terbuat dari plastik)

  1. Coba, coba lagi, dan coba terus

Ada kalanya anak mengalami kesulitan dalam beberapa hal seperti memakai sepatu, misalnya. Sesekali bolehlah mereka dibantu, tapi jangan selalu didampingi. Yang terpenting, dorong anak untuk terus mencoba. Ketika anak belajar berjalan dan kemudian terjatuh, jangan menghentikannya. Katakan padanya jika ia tidak bisa melakukan sesuatu bukan berarti ia gagal, tapi hanya perlu mencoba lagi. Pantang menyerah juga membuat anak mandiri karena mereka tidak akan takut gagal.

  1. Dukung keinginan anak untuk melakukan banyak hal sendiri

Usia 18 sampai 24 bulan adalah usia ketika anak ingin melakukan semua sendiri. Dukung usaha anak dengan menyesuaikan lingkungannya. Berikan tanggung jawab sesuai usianya, tapi Ibu harus fleksibel dengan hasilnya. Yang terpenting adalah anak mencoba, bukan melakukan sesuatu dengan benar. Mereka akan belajar mandiri dengan bisa melakukan beberapa hal tanpa bantuan orang tua. Penelitian menunjukkan orang tua yang terlalu terlibat, mengambil alih aktivitas yang (seharusnya) anak lakukan membuat anak tidak mengembangkan rasa bangga dan keinginan untuk mencoba hal baru. Mereka akan selalu bertanya untuk melakukan sesuatu dengan benar.

  1. Puji anak dengan tulus & menyenangkan

Hargai usaha anak dengan feedback positif. Komentar yang ‘menohok’ ketika mereka melakukan kesalahan, atau belum berhasil, dapat membuat anak jadi terpuruk. Bila anak sering dibuat malu, mereka akan enggan mencoba hal baru dan itu dapat menghambatnya menjadi anak mandiri.

  1. Ajarkan caranya

Dapat mengerjakan tugas dengan baik adalah kunci untuk menjadi anak mandiri dan menjadi sebuah pencapaian tersendiri. Tapi untuk mendorong kemampuannya, orangtua perlu menunjukkan cara melakukan sebuah tugas dengan perlahan dan jelas, serta membaginya menjadi beberapa tindakan terpisah, misalnya bimbing anak ketika membersihkan meja: pertama, bawa piring ke tempat cuci piring, lalu gelas, lalu yang lainnya. Lalu lihat bagaimana ia melakukannya sendiri dan beri pujian karena telah berusaha keras.

  1. Mengajarkan kemandirian kepada anak-anak yang cemas akan berpisah (jauh dari orangtuanya)

Apabila anak merasa cemas karena akan berpisah dari orangtuanya, maka hal-hal berikut ini dapat membantu membuatnya merasa lebih nyaman:

  • Tenang dan percaya diri saat berpisah.  Kepergian orangtua menyedihkan si batita, namun kalau orangtua bersikap seolah ini bukan hal besar dan dia pun tahu kalau orangtuanya akan segera kembali, bantu tenangkan rasa takutnya. Ucapkan perpisahan dengan cara yang simpatik.
  • Berlatih jauh dari anak.  Gunakan timer. Atur waktu selama 5 menit dan beritahu anak, “Ibu akan pergi ke ruangan lain selama 5 menit, dan akan kembali.” Setelah ia mengerti kalau Ibu akan kembali, atur waktu lebih lama hingga ia siap untuk berpisah lebih lama, seperti ketika ia sekolah.
  • Hindari pergi tanpa pamit.  Pergi diam-diam hanya akan membuat anak kesal. Setelah ia menyadari Ibu/ayah pergi tanpa pamit, ia akan menangis dan cemas apakah Ibu/ayah akan kembali.

Tunjukkan rasa cinta kepada anak.  Menunjukkan cinta dan dukungan kepada anak secara konsisten dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak. Teruslah memotivasi anak ketika ia mencoba sesuatu sendiri sehingga ia tumbuh menjadi anak mandiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *