Apa yang Kita Wariskan

Apa yang Kita Wariskan; Bukan berarti kita harus (akan) mati –meninggalkan dunia: keluarga, anak, cucu– kalau kita membicarakan hal ini.

Bahkan bagi beberapa orang atau keluarga, membahas soal warisan dianggap ‘tabu’. Hmm, terserah saja… tetapi warisan yang ini: beda! Karena warisan ini bukan berupa uang, harta, perhiasan, rumah, mobil, atau aset lainnya, melainkan: nilai. Ya, nilai apa yang akan saya wariskan untuk anak-anak kelak? Apakah kita sudah menerapkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehingga kelak anak-anak dan cucu-cicit kita akan meneladaninya?

  1. Kejujuran

Kita pasti menginginkan anak-anak yang jujur dan menjunjung tinggi kejujuran. Sekarang ini bisa kita lihat kejujuran semakin ‘ghaib’ saja. Korupsi dan manipulasi merajalela. Sejak kecil anak seakan ditanamkan untuk harus meraih nilai bagus, terserah bagaimana caranya. Jika hal seperti ini ditumbuhsuburkan, niscaya akan lahir penerus bangsa berjiwa korup. Relakah Ayah, Bunda… anak-anak hidup berkecukupan bahkan kaya raya, namun dari hasil yang tidak halal..? Kalau tidak, berusahalah sebisa mungkin untuk selalu berkata yang benar dan tidak berbohong sekecil apa pun di hadapan anak.

  1. Kedisiplinan

Pepatah kuno (yang sebetulnya masih relevan hingga kini) mengatakan, “Waktu adalah pedang” –yang jika tidak kita manfaatkan secara maksimal, ia akan ‘membunuh’ kita. Tetapi kenapa sampai saat ini kita masih suka membuang-buang waktu untuk melakukan hal-hal yang tak berguna? Meremehkan penggunaan waktu sehingga hidup dijalani tanpa produktivitas. Suka menunda-nunda sehingga pelaksanaan tugas tidak ada yang tepat waktu. Sebenarnya, untuk bisa melahirkan anak yang disiplin dan memiliki pengaturan waktu yang baik, kitalah yang harus terlebih dahulu membenahi diri. Perhatikan waktu yang kita miliki selama ini dan alokasikan hanya untuk kegiatan yang benar-benar direncanakan dan berguna bagi kehidupan ini.

  1. Kerja Keras

Kita pasti lebih menghargai orang yang meraih kesuksesan melalui jerih payah dan usaha yang tak kenal lelah –bukan secara instan. Nah, kalau kita saja bukan tergolong orang yang suka bekerja keras, kenapa maunya punya anak pekerja keras? Hehe… Oleh karenanya kita harus lebih profesional dalam peran-peran yang dijalani, agar anak-anak bisa melihat ketekunan, keseriusan dan kerja keras kita. Kelak mereka juga akan meneladani apa yang kita lakukan terhadap peran-peran yang diamanahkan.

( sumber: https://memerumaysa.wordpress.com/2017/09/12/nilai-apa-yang-kita-wariskan/ )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *