Bagaimana Cara Mendidik Anak Laki-Laki

Bagaimana Cara Mendidik Anak Laki-Laki; Pengarang buku Raising Boys, Steve Biddulph, dalam media cetak The Irish Times menyebutkan bahwa banyak anak laki-laki dan remaja pria yang akhirnya disakiti atau menyakiti orang lain saat mereka menghadapi masalah. Dibandingkan perempuan, anak laki-laki pun memiliki kemungkinan sembilan kali lebih besar untuk dipenjara, tiga kali lebih besar untuk memakai narkoba, bunuh diri, maupun meninggal karena kecelakaan.

Rasa-rasanya tidak mungkin kalau semua hal tersebut memang “sudah dari sananya”. Pasti ada alasan logis yang mampu menjelaskan fenomena ini, beserta cara mengatasinya. Pertanyaannya adalah: mengapa, dan bagaimana? Berikut penjelasannya:

1.  Pahami perbedaan bawaan anak laki-laki

Anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang dapt ditelusuri dari faktor fisiknya. Saat masih di dalam kandungan, otak janin laki-laki tumbuh lebih lambat dibandingkan janin berjenis kelamin perempuan. Hal ini masih terus berlangsung saat mereka berusia lima tahun, di mana perkembangan otak anak laki-laki terlambat 20 bulan dibandingkan anak perempuan. Jadi, tak perlu khawatir kalau ternyata anak laki-laki Anda masih belum bisa konsisten diajak bekerja sama, sedangkan anak perempuan pada usia tersebut sudah bisa mewarnai dengan rapi, dapat membantu membereskan mainan, bisa membaca, dll.

Tak hanya sampai di situ, sesama anak laki-laki pun masih memiliki perbedaan karakter terkait jumlah hormon testosteronnya. Anak dengan kadar testosteron tinggi lebih berpotensi mengalami kesulitan membaca dan berbicara, padahal secara umum anak laki-laki tiga kali lebih sulit membaca dibandingkan perempuan.

2.  Tentukan karakter yang ingin dimiliki anak

Ibarat membangun rumah, orang tua harus memiliki rancangannya terlebih dahulu. Biasanya orang tua ingin anaknya menjadi orang yang sukses, baik, taat beragama. Seorang ibu mungkin memiliki pandangan yang lebih detail tentang karakter anak mereka kelak, seperti tegas tapi mengayomi, pemimpin tapi juga pengertian, pekerja keras tapi tidak enggan membantu urusan rumah tangga, dan sejenisnya. Intinya: anak laki-laki diharapkan menjadi sosok yang kuat sekaligus penyayang.

Ibu dapat membacakannya buku sejak kecil agar ia terbiasa membaca, sering mengajak anak berbicara, mendengarkannya dengan penuh perhatian saat ia bercerita tentang apapun, meskipun hal tersebut sangat sepele. Hindari membolehkannya bermain games atau gadget tanpa batasan waktu yang jelas agar kemampuan komunikasinya dapat berkembang dengan lebih baik. Pada dasarnya pembiasaan akan hal-hal baik tidak mengenal jenis kelamin. Namun, dengan mengetahui karakteristik anak sejak awal, Anda dapat mengetahui kelemahan apa yang masih bisa dikejar dan kekuatan apa dari anak yang bisa diasah.

3. Ajari mereka mengungkapkan perasaan

Kenyataan bahwa anak laki-laki lebih banyak terlibat kegiatan berbau kekerasan berakar dari dua hal: karena faktor hormonal dan lingkungan. Laki-laki memiliki hormon testosteron yang membuat motorik kasar mereka berkembang lebih baik dari aspek motorik halus. Sementara itu, faktor lingkungan membuat mereka tabu untuk mengungkapkan perasaan. “Anak laki-laki kok cengeng,” menjadi bagian dari cara orang tua generasi terdahulu mendidik anak laki-laki agar tangguh. Meskipun saat ini orang tua sudah lebih memahami bahwa laki-laki pun boleh menangis, lingkungan masih menganggap laki-laki tidak semestinya menunjukkan sisi lemahnya. Akibatnya, anak laki-laki kerap memendam kesedihannya. Perasaan terpendam dapat berkembang menjadi stres. Stres merupakan faktor penting dalam berbagai penyakit fisik dan mental. Sebagian besar kecanduan alkohol berakar dari kebutuhan untuk melupakan masalah (dengan cara minum-minum).

Diperlukan waktu yang tidak sebentar bagi seorang anak laki-laki untuk terbiasa mengungkapkan perasaan. Tetaplah dukung dan dampingi anak. Jika anak terlihat seperti menyimpan masalah, tanyakanlah. Namun hindari mendesak ia untuk bercerita atau menghujaninya dengan pertanyaan jika ia menolak menjawab. Sebaliknya, peluk dia dan katakan padanya bahwa Anda selalu siap kapan pun dia ingin bercerita.

4. Belajar dari perilaku agresif

Pendiri Parent Coaching Institute, Gloria DeGaetano, sempat bertekad untuk tidak membelikan anak laki-lakinya permainan berbau kekerasan, seperti senapan mainan. Namun, anak-anak ternyata lebih kreatif dalam keadaan serba terbatas: tongkat dijadikan pedang atau tembakan. Bahkan, roti tawar pun digigit sedemikian rupa hingga berbentuk seperti pistol. Pada titik ini, Gloria menyerah dan membelikan anaknya mainan sejenis berkualitas baik yang aman untuk anak.

Yang perlu diperhatikan ketika anak bermain imajinasi yang berbau kekerasan adalah pastikan anak tidak memiliki niat untuk menyakiti orang lain. Jika anak merasa permainan terlalu kasar, ia harus berhenti. Apabila kita melihat bahwa permainan ini membuat anak frustrasi, gunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan konsep empati, yaitu proses untuk memahami perasaan orang lain. Dari sini, anak belajar bahwa menyakiti orang lain itu tidak boleh. Mereka pun belajar menyesuaikan diri dengan orang lain.  Cara mendidik anak laki-laki seperti inilah yang mungkin tidak dapat diterapkan pada anak perempuan.

5.  Didik berdasarkan usia

Dalam buku Raising Boys, Steve Biddulph membagi cara mendidik anak laki-laki dalam tiga tahapan usia. Pada usia 0 – 6 tahun, anak laki-laki membutuhkan banyak perhatian dan kasih sayang agar mereka dapat belajar menyayangi. Berbicara secara langsung, mengajari secara personal, dapat membantu mereka mengenal dunia. Pada tahapan usia ini, ibu adalah sosok yang paling tepat untuk mengajari anak laki-laki meskipun ayah juga dapat berperan serta.

Pada usia enam tahun, anak laki-laki mulai menunjukkan ketertarikan pada maskulinitas dan hal-hal berbau pria. Karena itulah, saatnya ayah mengambil alih peran ibu sebagai pendidik utama. Minatnya akan suatu hal menjadi penting di masa ini. Peran ibu tetap besar, sehingga jangan mendadak mundur hanya karena anak sudah bertambah besar.

Sekitar umur 14 tahun, anak laki-laki membutuhkan mentor, yaitu orang dewasa lain yang memperhatikan mereka dan membantu mereka untuk “pindah” dari dunia kanak-kanak mereka ke dunia yang lebih besar. Masyarakat tradisional melakukan upacara adat untuk menandai transisi ini, sehingga mentor pada saat itu tidak susah dicari. Pada masa sekarang, sosok yang dapat menjadi mentor antara lain paman, kakak kelas, guru di sekolah, pelatih di kegiatan ekstrakurikuler atau kursus.

6.  Tanamkan sikap menghargai wanita

Banyak kasus kekerasan pada perempuan berakar dari cara yang salah dalam mendidik anak laki-laki, yaitu lupa mengajarkan mereka bagaimana menghargai wanita. Budaya dan lingkungan pun memiliki andil dalam membentuk pola pikir yang memposisikan pria lebih tinggi daripada wanita. Karena itu, peran orang tua dalam keluarga sangat penting untuk mengikis ketimpangan ini agar anak laki-laki juga dapat menghargai perempuan.

Salah satu caranya adalah dengan mengajarkan mereka untuk jangan pernah memukul, menyakiti, bersikap kasar, dan tidak hormat pada perempuan diawali dari ibu dan saudaranya sendiri. Ayah dan ibu harus membahas hal ini secara jelas pada anak tentang bagaimana seorang pria harus bersikap. Sampaikan dengan gamblang tanpa membuat anak merasa hal tersebut menakutkan atau berat. Dalam keseharian, cara mendidik anak laki-laki agar mampu menghargai wanita adalah dengan membiasakan ia untuk membersihkan sendiri piringnya di dapur, merapikan kamarnya sendiri, sehingga ia tidak menganggap hal-hal seperti ini adalah tugas ibunya, pembantunya, atau wanita pada umumnya.

Saat ia menginjak usia 14 tahun, ketika badannya sudah lebih besar dari ibu dan perempuan pada umumnya, anak mulai berpikir bahwa tidak ada yang dapat memaksanya melakukan sesuatu. Jika anak mulai tidak sopan terhadap ibu, misal menyuruh ini itu atau membentak, di sinilah ayah harus turun tangan –bersama dengan ibu menyelesaikan masalah tersebut.

Banyak kasus dimana ayah seolah lepas tangan dengan sikap tidak sopan anak laki-lakinya, dan menganggap hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Lebih buruk lagi, justru ayah lah yang memberi contoh buruk cara memperlakukan ibunya. Jika ini yang terjadi, sang ayah tidak mendidik anak laki-lakinya dengan benar, terlepas dari terpenuhinya segala kebutuhan anak.

Lalu bagaimana dengan ibu tunggal (single mother)? Cara mendidik anak laki-laki seperti langkah-langkah di atas tetap dapat dilakukan oleh ibu tunggal, namun ia harus mencari sosok laki-laki dewasa yang dapat anak jadikan panutan sebagai pengganti ayah. Sosok ini dapat berupa kakek, paman, guru, atau teman ibu yang dapat dipercaya dan sering hadir dalam kehidupan anak. Selain itu, ibu harus memiliki waktu untuk diri sendiri untuk beristirahat dari peran ganda yang ia jalankan.

Pesan khusus untuk para ayah, meskipun peran dalam masyarakat memposisikan ayah sebagai pekerja pencari nafkah, berjuanglah semaksimal mungkin untuk memiliki waktu bersama anak. Hal sederhana seperti bermain dan mengobrol akan sangat berarti bagi anak, begitu juga dengan traveling. Terkadang, ADD (Attention Deficit Disorder) bisa berarti DDD (Dad Deficit Disorder) atau kurang perhatian ayah. Dalam mendisiplinkan anak, berbagilah peran dengan istri. Jangan mendidiknya dengan kekerasan karena anak pun akan melakukan hal yang sama pada orang lain. Terakhir, jadilah contoh yang baik baginya. Anak laki-laki meniru perilaku ayah dalam banyak hal, dari cara bicara hingga pola pikir.

( sumber: https://www.ibupedia.com/artikel/balita/7-cara-mendidik-anak-laki-laki )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *