Belajar Sambil Bermain Atau Bermain Sambil Belajar

Belajar Sambil Bermain Atau Bermain Sambil Belajar

belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar

Pernahkah anda melihat anak sedang bermain lego? Taukan anda bahwa dia juga sedang belajar? Anak yang sedang asyik dengan permainan legonya sebernarnya ia juga sedang belajar. Ia belajar bagaimana cara menyesuaikan bentuk-bentuk mainan lego menjadi sebuah bangunan atau bentuk 3 dimensi lainnya. Tapi, perlu diketahui, bahwa apakah anak bermain sambil belajar ataukah belajar sambil bermain? Bedakah antara dua pernyataan tersebut? Tentu benda. Bedanya adalah jika belajar sambil bermain lebih menekankan pada pelajarannya, maka bermain sambil belajar lebih menekankan pada jenis permainannya.

Ketika anak bermain, sesungguhnya mereka sedang belajar. Menurut Montessori, sebagaimana dikutip oleh Anggani Sudono, ketika anak sedang bermain, anak akan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Anak yang bermain sebenarnya telah berbagai hal baru yang ada disekitarnya. Proses penyerapan inilah yang disebut Montessori sebagai aktifitas belajar.

Disinilah pentingnya orang tua dan guru memilih dan menentukan jenis permainan yang cocok dengan perkembangan anak. Pemilihan dan penentuan jenis sesuai permainan ini sama persis dengan pemilihan materi pelajaran oleh guru yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Pemilihan jenis permainan yang sesuai dengan perkembangan anak ini perlu dilakukan agar pesan edukatif dalam setiap permainan dapat ditangkap anak dengan mudah dan menyenangkan. Jika antara jenis permainan tidak sesuai dengan perkembangan anak, maka yang terjadi adalah bermain hanya untuk mainan itu sendiri, bahkan akan berdampak buruk bagi pembentukan karakter dan kecerdasannya. Sebaliknya, pemilihan permainan yang selaras dengan perkembangan anak akan mengembangkan aspek kecerdasan tertentu, sehingga kesannya bermain untuk belajar bukan bermain untuk mainan itu sendiri.

Sebagai contoh belajar sambil bermain ialah ketika anak dihadapkan dengan beberapa macam warna bola, kemudian ia diminta untuk mengumpulkan atau mengelompokkan bola sesuai dengan kesamaan warnanya, kemudian menunjukkan macam-macam warna tersebut dan menghitungnya berapa jumlah bola yang sama warnanya. Dari sini dapat dikatakan bahwa anak sedang melakukan proses belajar, tetapi sambil bermain. Nilai edukatifnya yaitu anak mengenal lebih jauh tentang macam-macam warna dan belajar berhitung.

Ada jenis-jenis permainan tertentu yang lebih cocok, bahkan di desain secara khusus untuk mempermudah anak dalam belajar tertentu. Permainan memang dimaksud bukan sebagai permainan semata, melakukan permainan yang dapat menstimulasi minat belajar anak. Banyak sekali jenis permainan model ini, seperti permainan yang khusus mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus, perkembangan khusus mengembangkan bahasa anak, perkembangan khusus mengembangkan social-emosional anak, dan sebagainya. Dalam hal ini, kepiawan guru dan orang tua dalam memilihkan jenis permainan tidak boleh ditawar-tawar lagi.

Jika anak mampu memainkan jenis permainan tertentu secara sempurna, maka anak tersebut bisa dikatakan berhasil dalam bermain sambil belajar, artinya anak mampu menguasai mata pelajaran tertentu melalui permainan khusus tersebut. Sekadar contoh, permainan lompat untuk mengembangkan keterampilan motorik kasar anak. Jenis permainan ini memang sengaja dirancang secara khusus untuk mengembangkan motorik kasar anak.

Sebelum memilih kegiatan, permainan, maupun metode yang tepat bagi anak, harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Perkembangan anak
  2. Kebutuhan anak
  3. Bermain sambil belajar
  4. Pendekatan tematik
  5. Kreatif dan Inovatif
  6. Lingkungan kondusif
  7. Mengembangkan kecakapan hidup

By Tim Fikar School 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *