Esensi Hari Raya

Esensi Hari Raya; Bulan Ramadhan akan segera berlalu, begitu pula hal-hal yang mungkin sangat dirindu oleh umat Islam setahun ke depan.

Sayangnya, di tengah revolusi diri yang sebelumnya hitam kelam akibat dosa dari sebelas bulan sebelumnya, ‘dicuci’ selama sebulan penuh menjadi putih bersih bagaikan kertas yang baru dikeluakan dari bungkusnya di hari yang fitri, tetiba hal baik yang telah lama kita biasakan selama satu bulan seakan sirna. Sikap dan perbuatan kita yang bak malaikat di bulan Ramadhan menjadi sekedar kenangan indah pelipur lara.

Kalau seperti itu kenyataannya, maka setan telah berhasil meruntuhkan bangunan kebiasaan baru yang baik dan bermanfaat yang telah kita bangun selama sebulan penuh. Kita seperti lupa, bahkan merusak sendiri kebiasaan baik itu dengan menuduh setan yang telah terbebas dari belenggu.

Hari Raya bukanlah tentang baju baru, celana baru, sepatu baru, sandal baru, mobil baru, rumah baru, bahkan pasangan hidup baru. Hari Raya Idul Fitri pun bukan tentang takbir yang mengharu biru, keluarga dan sanak saudara nan syahdu, atau ketupat yang tersedia di meja yang baru. Akan tetapi Hari Raya Idul Fitri tentang sudah seperti apa kita. Bagaimana hasil didikan intensif selama sebulan penuh.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab suci bahwa hasil akhir yang diinginkan Tuhan adalah menjadi pribadi yang bertakwa. Itulah esensi yang paling penting dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri, sudahkah kita menjadi yang bertaqwa atau belum? Apabila kita sudah menjadi pribadi yang bertakwa, menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi semua yang Dia larang, maka kita benar-benar sangat beruntung karena telah sukses membentuk dan mendidik diri kita di bulan Ramadhan ini.

Hari Raya Idul Fitri juga merupakan momentum untuk bersatu, saling merekatkan diri antara satu dengan yang lainnya, meningkatkan rasa persatuan baik secara internal maupun eksternal, karena momen ini juga dikenal sebagai hari yang penuh kasih sayang karena orang-orang saling bermaafan, bahkan yang beda agama sekalipun.

Seharusnya setiap orang menjadi semakin penyayang dan penyabar, karena dengan sayang dan sabar, maka jalan kebahagiaan, kenikmatan, dan kesuksesan akan terbuka lebar. Sedangkan hal sebaliknya akan terjadi pada orang yang tidak sabar. Maka yang harus ditanamkan adalah:

  1. Rasa syukur kita akan segala hal yang dimiliki.
  2. Semakin peduli dengan sesama
  3. Maafkan kesalahan orang lain, dan minta maaf sungguh-sungguh kalau kita punya kesalahan.
  4. Jangan mengulangi kesalahan dan bertobat dari maksiat yang pernah dilakukan
  5. Memohon kepada Tuhan agar kita dijaga dan dibimbing dalam kebaikan, serta istikomah sampai akhir hayat

( sumber: https://wahyusyafiul.wordpress.com/2015/08/16/esensi-idul-fitri/

https://www.brilio.net/wow/4-makna-hari-raya-idul-fitri-limpahan-rahmat-bagi-umat-muslim-200521i.html )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *