Gaya Parenting Nabi Ibrahim

Gaya Parenting Nabi Ibrahim

Sangat benar memang, bahwa Al Quran merupakan sumber segala ilmu. Ilmu Parenting yang sekarang sedang menjadi ‘tren’ juga banyak yang bersumber dari Al Quran. Bahkan cukup satu ayat saja sudah mampu menjadi sumber inspirasi orang tua dalam mengasuh putra-putrinya. Kebetulan salah satu tema saya untuk tesis adalah mengupas konsep parenting dalam Al Quran. dan kebetulan lagi 😀 ketika mencari-cari ada sebuah buku berjudul Inspirasi Parenting dari Al Quran yang isinya sangat bagus menurut saya.

Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit menyontek isi dari buku itu dan sharing ke semua pembaca. Siapa tahu ada manfaatnya. Yaitu tentang gaya parenting ala Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tentunya bersumber dari Al Quran. istimewanya, hanya dari satu ayat saja, kita bisa mengambil lebih dari tiga prinsip mengasuh dan mendidik anak yang diajarkan melalui dialog Nabi Ibrahim kepada putranya, Nabi Ismail. Allah swt berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102)

Jika kita benar-benar merenungi ayat tersebut, ada beberapa pelajaran penting terkait dunia parenting yang diajarkan Nabi Ibrahim dalam dialognya bersama sang putra tercinta. Pertama, pentingnya berbagi pendapat dan mengajak bicara anak-anak kita, walaupun hal tersebut merupakan hal yang sulit untuk diterima. Dalam ayat itu Nabi Ibrahim meminta pendapat putranya tentang perintah Allah untuk menyembelih sang putra, dan itu bukan permintaan yang mudah untuk diterima. Tapi sepahit apapun, Nabi Ibrahim sebagai bapak tetap mengajak musyawarah dan meminta pendapat kepada putranya.

Di sini terlihat pentingnya musyawarah atau komunikasi antara bapak atau juga ibu dengan anaknya. Sebenarnya tidak harus menunggu anak-anak kita sampai pada usia yang cukup matang, namun dari dini kebiasaan musyawarah itu sudah bisa kita tetapkan. Sebagaimana jargon yang banyak diungkapkan ahli parenting, bahwa anak kita sebenarnya sangat cerdas, lebih pintar dari yang kita bayangkan. Membiasakan meminta dan mendengar pendapat anak akan membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang kritis.

Kedua, ayat ini diawali dengan lafal فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ yang berarti bahwa Ismail telah mencapai perkembangan usia yang menjadikan ia mampu melakukan sesuatu bersama ayahnya. Di usia seperti itu ia sudah bisa menjadi partner bertukar pendapat oleh ayahnya. Syeikh Sya’rawi mengemukakan secara detail, bahwa penambahan kata bersamanya (bersama ayahnya) menunjukkan makna lebih khusus, yaitu peran Nabi Ibrahim di usia perkembangan anaknya.

Hal ini menjadi pelajaran khususnya bagi para bapak untuk tidak melewatkan proses kembang putra putrinya. Nabi Ibrahim yang sebagai Nabi saja masih meluangkan waktu untuk putranya, maka sudah seharusnya kita yang hanya disibukkan dengan pekerjaan dunia mampu lebih meluangkan waktu untuk mendampingi, mengawasi, dan juga mendidik anak-anak kita terutama pasa usia perkembangannya.

Ketiga, ayat ini juga menunjukkan sikap kebapakkan Nabi Ibrahim yang tidak terlalu menuntut anaknya untuk bisa dalam segala hal dan tidak memaksakan kehendak. Beliau justru membantu dan bekerja sama dengan anaknya untuk menebar kemaslahatan.

Keempat, ucapan Nabi Ibrahim kepad putranya, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Menunjukkan ketenangan dan kemantapan hatinya. Ia tidak menakut-nakuti Nabi Ismail atau mengalihkan keyakinannya dengan sikap emosional. Dari sini kita belajar, bahwa hendaknya ketika mengajak bicara anak dengan jujur, tenang, dan kepala dingin akan lebih efektif dan bisa diterima oleh mereka.

Kelima, jawaban Nabi Ismail, “Insyaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” menggambarkan kepribadian luar biasa yang dimiliki Nabi Ismail. Dan ini tentunya tidak mungkin dimiliki anak yang tidak dididik dengan baik oleh orang tuanya. Khususnya didikan tentang tauhid dan keesaan Allah. Sikap dan ucapan Nabi Ismail yang direkam ayat ini jelas adalah buah pendidikan tersebut.

Semoga kita, para bapak dan ibu, mampu mengamalkan gaya parenting yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dalam dialognya bersama putra tercinta. Demi mewujudkan generasi Islam penerus yang kuat iman dan taqwanya.. aamiin.

Semoga bermanfaat,

(Sumber: ziziy.blogspot.com by Balqis Aziziy)

By Team Fikar School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *