Kenakalan Anak

Kenakalan Anak; Biasanya orang tua ketika melihat kelakuan anak yang kurang berkenan, seperti bermain hujan yang menyebabkan mereka sakit, atau berlarian di dalam rumah sehingga ada barang yang pecah, atau memanjat pohon sehingga mereka jatuh, dan lain sebagainya, maka dengan entengnya men-cap anak itu “nakal”. Apalagi kalau sudah sering dibilangin, tapi mereka masih saja melakukannya, maka orang tua pun langsung emosi, memarahi anak.

Padahal sesungguhnya sikap anak yang seperti itu adalah cara mereka untuk mengekspresikan tumbuh-kembangnya. Wajar kalau anak-anak itu sedang mengeksplorasi dunia di sekeliling mereka karena itu memang usianya (masanya). Nah, kalau mereka sudah dewasa tetapi masih suka manjat pohon, atau lari-larian gak jelas, baru itu aneh, hehe.

Justru kita harus bersyukur karena anak-anak kita dalam kondisi fisik dan mental yang sehat. Mereka melakukan semua itu dengan rasa keingintahuan yang besar akan situasi dan kondisi yang ada di sekeliling mereka. Kita saja, yang orang dewasa, kalau pergi ke suatu tempat yang pertama kali kita kunjungi, bagaimana kelakuan kita? Bukankah kita pun ingin mengeksplornya, menjawab rasa penasaran, berkeliling, banyak tanya, dan sebagainya. Masa iya, kita sudah datang jauh-jauh tapi hanya di kamar hotel saja, tidak ke mana-mana sampai waktunya kita pulang?

Begitu pun anak-anak, mereka bingung kalau dicap “nakal” ketika sedang mengeksplor dunia mereka. Karena bagi mereka, inilah cara mengekspresikan diri. Oleh karenanya, bantu anak-anak kita dalam tumbuh-kembang mereka dengan cara terus mengatakan hal-hal yang baik saja kepada mereka. Kalaupun mereka sampai memecahkan barang, misalnya, tak perlu marah-marah. Berikan kata-kata yang lembut bahwa kita mencintai mereka.

Orang tua pun wajar kalau khawatir sampai terjadi apa-apa dengan anak-anak mereka. Namun kalau berkata dan berperilaku kasar, seperti membentak atau berkata “nakal” kepada anak, tidakkah akan merusak tumbuh-kembang mereka? Orang tua lebih dewasa daripada anak-anak, maka harus lebih dewasa dan bijak pula dalam berpikir dan bertindak. Maka sebagai orang tua, perhatikan hal berikut:

  1. Sadarilah bahwa usia anak-anak memiliki waktu yang sangat terbatas, jadi kalau mereka berekspresi dan bereksplorasi, itu memang masanya –cara Tuhan mengenalkan dunia di sekeliling mereka, terjadi secara naluriah.
  2. Bantu anak-anak kita, karena mereka butuh bimbingan orang tua. Kita sebagai orang tua memiliki tanggung jawab penuh dalam membantu tumbuh kembang anak-anak kita. Kalau bukan kita yang sabar kepada mereka, siapa lagi?
  3. Kalau anak kita pasif, justru itu perlu diwaspadai. Ada yang salah dengan cara mendidik mereka. Mungkin kita kasar atau pemarah sehingga anak-anak kita takut melakukan itu semua, padahal kondisi fisiknya sehat. Belajar ilmu menjadi orang tua yang baik dan benar menjadi wajib hukumnya, karena anak yang tumbuh-kembangnya optimal itu berawal dari orang tua yang berwawasan baik akan dunia orang tua dan anak. Ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang tua mereka, bukan orang lain.
  4. Orang tua harus punya bonding/ikatan dengan anak. Ini mampu memengaruhi tindakan mereka dan menunjukkan perbedaan mana yang benar dan yang salah. Kalaupun anak telah berbuat nakal, mereka berhak untuk memperbaiki diri dan mendapat perhatian serta kasih sayang orang tua.

( sumber: https://www.halodoc.com/artikel/kenakalan-anak-saat-remaja-karena-kurangnya-peran-ayah )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *