Mengenali Potensi Anak

Mengenali Potensi Anak

Dalam dunia pendidikan, kita akan mempelajari berbagai macam hal dari yang bersifat akademik dan non-akademik. Pendidikan akademik diperoleh dengan sistem pembelajaran bersama guru di sekolah ataupun dosen di perguruan tinggi, sedangkan pendidikan non-akademik diperoleh melalui berkegiatan, berorganisai dan bersosialisasi dengan orang lain. Pendidikan non-akademik yang berupa kegiatan seni dan olahraga yang mengandung aspek disiplin dan keterampilan diharapkan mampu membantu seseorang untuk dapat hidup dalam masyarakat.

Mengenali potensi yang dimiliki oleh seseorang sangatlah penting. Selain itu, perlu adanya dukungan dari faktor eksternal seperti sarana prasarana, pengajar yang kreatif, serta sistem/kurikulum yang bagus. Dengan pengoptimalan potensi pada diri seseorang, maka akan terbentuklah generasi unggul yang dapat berdaya saing secara global sehingga mampu melahirkan keadaan yang lebih baik bagi kehidupan di negara ini.

Fakta menunjukkan SDM Indonesia ternyata sangat lemah. Padahal di era-globalisasi dan abad informasi yang penuh dengan ketidakpastian dan persaingan, hanya SDM berkualitas yang bisa diandalkan untuk tetap survive.

Namun pada saat sekarang ini, orientasi pendidikan lebih mengedepankan pendidikan yang bersifat akademis yang memiliki kurikulum ilmu pasti, bahkan banyak orang tua yang membatasi ruang gerak anaknya dengan mendaftarkan anaknya ke berbagai lembaga kursus dibandingkan berkegiatan yang akan mengembangkan bahkan menggali potensi yang ada pada anaknya

Dan faktanya masih banyak orang tua dan sekolah yang hal non-akademis tidak diutamakan.
Kegiatan pengembangan minat-bakat dan organisasi mungkin dilakukan, tapi tak dipentingkan. Jargonnya: kegiatan lain tak boleh mengganggu Ujian.

Lho, bukankah pendidikan memang harus seperti itu?

Iya jika memang Anda memandang sekolah sebagai satu-satunya model pendidikan dan cara ideal untuk belajar. Dan sekolah memang satu-satunya model yang digunakan di masyarakat. Setidaknya saat ini.
Jika kita memandang ada cara belajar dan berhasil selain melalui “cara sekolah”, Anda akan bisa melihat model pendidikan lain.

Pertanyaan kritisnya begini:

apakah kuliah adalah jaminan dan satu-satunya jalan untuk sukses?

apakah seorang atlit atau seniman harus belajar semua mata pelajaran seperti anak SD-SMA umum agar berhasil di bidang yang ditekuninya?

Jika anak memiliki kelemahan pada satu mata pelajaran tertentu, misalnya matematika, apakah dia harus dipaksa mempelajarinya dengan tingkat kedalaman yang sama dengan anak yang mau kuliah?

apakah semua profesi dan pekerjaan mensyaratkan ijazah sekolah untuk berkarya?

Jika Anda menjawab “Tidak” pada salah satu pertanyaan di atas, Anda sebenarnya membuka diri untuk cara belajar lain di luar model sekolah.

Nah, bagi orang tua yang ingin anaknya seimbang antara akademik dan non akademiknya, homeschooling bisa jadi salah satu solusi Ayah Bunda. Homeschooling? Why not

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *