Mendidik Anak yang Suka Jahil kepada Temannya

13 Oct
0 comment

Dunia anak adalah dunia yang unik dan ‘berbeda’ (dengan kita para orang tua, atau orang dewasa). Anak-anak memiliki pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Dalam proses tumbuh kembangnya, mereka kerap menunjukkan berbagai perilaku yang kadang membingungkan orang tua dan guru.

Baca juga: Homeschooling Jakarta

Bermacam tingkah polah dan perilaku yang sering muncul dalam keseharian mereka, salah satunya adalah kejahilan terhadap teman. Meski terkadang dianggap sebagai bagian dari dinamika sosial anak, perilaku jahil yang berlebihan bisa berdampak negatif, baik bagi korban maupun pelaku. Maka penting bagi orang tua dan pendidik untuk memahami cara mengatasi sekaligus mendidik anak yang sering jahil terhadap teman-temannya di sekolah.

Akar Masalahnya Adalah…

Dalam menghadapi anak yang sering jahil kepada temannya, maka langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memahami alasan di balik perilaku tersebut. Kejahilan bisa muncul karena berbagai hal berikut ini:

  • Mencari perhatian.

Boleh jadi, anak merasa kurang diperhatikan di rumah atau sekolah, sehingga mencoba menarik perhatian dengan cara yang negatif.

  • Kurangnya empati.

Mungkin anak belum memahami dampak secara fisik maupun emosional dari perbuatannya tersebut kepada orang lain.

  • Meniru lingkungan.

Bisa saja anak meniru dari tontonan, teman, baik yang masih sebaya maupun orang dewasa di sekelilingnya.

  • Kesulitan mengelola emosi.

Kalau anak masih belum mampu mengelola rasa tidak nyaman, bosan, marah, atau cemburu, maka dia bisa melampiaskannya dengan cara menjahili teman.

Dengan memahami akar masalah, orang tua dan guru bisa menentukan pendekatan yang tepat untuk membantu anak berubah.

Komunikasi yang Penuh Empati

Ketimbang memarahi apalagi langsung menghukum anak, cobalah pendekatan komunikasi yang penuh empati. Ajak dan dekati anak secara pribadi, di waktu yang tenang, dan tanyakan padanya:

  • “Apa yang membuatmu melakukannya?”
  • “Bagaimana perasaanmu saat melakukan hal itu?”
  • “Kira-kira seperti apa perasaan temanmu saat dijahili oleh Kamu?”
  • “Apa pendapat temanmu terhadap dirimu setelah Kamu jahili?”

Komunikasi seperti ini tujuannya bukan untuk menghakimi, akan tetapi untuk membuka ruang refleksi dan membangun kesadaran emosional. Anak yang merasa didengar akan lebih terbuka untuk berubah.

Pendidikan Nilai dan Empati

Bekali anak dengan pemahaman akan nilai-nilai sosial seperti empati, rasa hormat, dan tanggung jawab. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Membaca cerita atau menonton film edukatif yang mengangkat tema persahabatan, empati, dan hubungan baik antar-teman.
  2. Bermain peran (role play): Ajak anak bermain peran sebagai korban dan pelaku, lalu diskusikan perasaan masing-masing.
  3. Diskusi kelompok di kelas: Guru bisa memfasilitasi obrolan ringan tentang pentingnya saling menghargai dan dampak dari kejahilan yang terjadi di kelas, antar-teman.

Pendidikan nilai ini harus dilakukan secara konsisten dan berulang agar tertanam dalam pola pikir anak.

Menetapkan Batasan yang Jelas

Sudah selayaknya anak tahu bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Orang tua dan guru harus tegas dalam menyampaikan bahwa perilaku jahil yang menyakiti orang lain tidak bisa ditoleransi. Namun, ketegasan ini harus disampaikan dengan cara yang mendidik, bukan menakut-nakuti.

Baca juga: Sekolah Merdeka

Berikut adalah contoh pendekatan yang bisa digunakan: “Kami tahu kamu anak yang cerdas dan punya banyak energi. Tapi menjahili teman bukan cara yang baik untuk bersenang-senang.” Atau, “Kalau kamu merasa bosan, mari kita cari kegiatan lain yang lebih positif.”

Dengan cara ini, anak tidak hanya tahu bahwa perilakunya salah, tapi juga belajar alternatif yang lebih sehat.

Memberikan ‘Alternatif’ dan (Pilihan) Kegiatan yang Positif

Banyak anak yang suka jahil karena tidak tahu cara lain untuk bersosialisasi atau mengekspresikan diri. Maka penting untuk memberi mereka kegiatan ‘alternatif’, seperti:

  • Kegiatan ekstrakurikuler: Ajak anak mengikuti kegiatan yang sesuai minatnya, seperti seni, olahraga, atau hal-hal yang bersifat sains dan teknologi.
  • Permainan kelompok yang positif: Dorong anak bermain bersama teman dengan permainan yang membangun kerja sama, bukan kompetisi yang agresif.
  • Tugas tanggung jawab ‘kecil-kecilan’: Beri anak peran di kelas atau rumah, seperti menjadi penjaga kebersihan atau membantu adik dalam belajar.

Alternatif ini membantu anak menyalurkan energi dan kreativitasnya dengan cara yang lebih konstruktif.

Adanya Kolaborasi antara Orang Tua dan Guru

Mendidik dan membimbing anak tidak bisa dilakukan sendirian. Orang tua dan guru sudah seharusnya bekerja sama, yaitu dengan cara:

  1. Berbagi informasi: Guru bisa memberi laporan perilaku anak di sekolah, sementara orang tua bisa menjelaskan situasi di rumah.
  2. Menyusun strategi bersama: Tentukan pendekatan yang konsisten antara rumah dan sekolah, seperti sistem penghargaan dan konsekuensi.
  3. Evaluasi berkala: Lakukan pertemuan rutin untuk mengevaluasi perkembangan anak dan menyesuaikan strategi jika diperlukan.

Kolaborasi ini memastikan bahwa anak mendapat dukungan yang menyeluruh dan konsisten.

Beri Waktu dan Kesempatan Anak (untuk Berubah)

Berubahnya perilaku anak tidak mungkin terjadi dalam semalam. Anak butuh waktu untuk belajar, mencoba, dan sering kali gagal. Namun jangan cepat putus asa, yang penting selalu memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki diri tanpa terus-menerus dihakimi.

Berikan pujian saat anak menunjukkan perubahan positif sekecil apa pun. Misalnya: “Ibu senang kamu bisa bermain tanpa menjahili teman hari ini.” Atau, “Pak guru bangga kamu mau minta maaf dan memperbaiki kesalahan.” Pujian ini memperkuat perilaku positif dan membangun rasa percaya diri anak.

Mendidik dan mengatasi anak yang sering berbuat jahil bukan hanya soal menghentikan perilaku negatif, tapi juga soal membimbing dan mengarahkan mereka menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berempati, bertanggung jawab, dan mampu bersosialisasi secara sehat. Dengan pendekatan yang penuh kelembutan, kasih sayang, sekaligus tegas dan konsisten, maka anak-anak kita bisa tumbuh menjadi individu yang tak hanya cerdas, tapi juga bijak dalam berinteraksi dengan sesama.

Leave your thought