Cegah Bullying Sejak Dini

19 Sep
0 comment

Cegah Bullying Sejak Dini: Peran Orang Tua dalam Mempersiapkan Anak di Sekolah

Walaupun akhir-akhir ini semakin marak kasus Bullying di sekolah, akan tetapi ini bukan ‘isu’ yang baru. Dampaknya pun tetap meresahkan, bahkan dapat mengakibatkan luka psikologis yang mendalam dan sulit untuk disembuhkan. Ejekan/makian verbal, pengucilan sosial, hingga kekerasan fisik, semua itu dapat terjadi dalam berbagai bentuk, dan acapkali luput dari pengawasan guru maupun orang tua.

Begitu kompleksnya dunia anak-anak dan remaja saat ini, maka peran orang tua menjadi sangat penting dalam membekali anak agar tidak menjadi korban, dan yang tak kalah penting, tidak pula menjadi pelaku (pembully).

Baca juga: Sekolah Merdeka Jakarta

Bullying dapat berbentuk kata-kata (verbal), maupun tindakan agresif yang dilakukan secara berulang, bertujuan untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi. Bullying bisa terjadi mana saja, seperti di sekolah, di ruang kelas, kantin, lapangan, bahkan secara daring melalui med-sos ~cyberbullying.

Para korban bully, selain akan merasa sedih, sangat tidak nyaman, bahkan ada pula yang sampai depresi. Mereka mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan emosional, bahkan prestasi akademik yang merosot. Sementara pelaku bully, meski tampak dominan, sering kali menyimpan masalah internal seperti kurangnya empati, tekanan sosial, atau pola asuh yang buruk.

Peran Orang Tua: Keluarga merupakan Benteng Pertama Anak

Yang pertama tentu saja orang tua. Ayah dan/atau ibu adalah figur pertama yang membentuk karakter anak. Cara berkomunikasi, mendidik anak, dan memberikan keteladanan akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana anak bersikap di lingkungannya, termasuk di sekolah.

Hal yang harus dilakukan oleh para orang tua berikut ini:

  1. Bangun Open Communication (Komunikasi yang Terbuka).

Apabila anak merasa didengar dan dipahami, maka mereka akan cenderung lebih terbuka menceritakan pengalaman mereka. Orang tua perlu menciptakan suasana rumah yang ‘aman’ (secara emosional), sehingga anak tidak takut untuk berbicara, dan bercerita tentang hal-hal yang (bahkan) membuat mereka tidak nyaman di sekolah. Misalnya, tanyakan kepada anak, “Ada hal menarik atau kurang menyenangkan yang terjadi di sekolah hari ini?” Sebisa mungkin jangan menghakimi. Dengarkan anak secara seksama, dengan penuh empati.

  • Ajarkan Anak untuk Saling Berempati dan Saling Menghormati.

Ajarkan anak untuk menghargai perbedaan, baik dari segi fisik, latar belakang, maupun pendapat. Bisa dilakukan dengan menggunakan cerita, film, atau pengalaman sehari-hari untuk menunjukkan pentingnya bersikap baik kepada semua orang.

Anak yang mempunyai empati yang kuat akan lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi pelaku bully, dan lebih besar kemungkinannya untuk membela temannya yang menjadi korban bully.

  • Bekali Anak dengan Social Skill (Keterampilan Sosial).

Anak harus berani berkata “tidak”, mengelola emosi, dan mencari bantuan saat dibutuhkan sangat penting. Orang tua bisa melatih anak melalui simulasi atau roleplay. Ajarkan anak untuk tidak membalas dengan kekerasan, tetapi juga tidak diam saja. Memberi tahu guru, konselor, atau orang tua adalah langkah yang tepat.

  • Awasi Aktivitas Digital/Online Anak

Selain di dunia nyata, bullying juga bisa terjadi di dunia maya, misalnya: lewat pesan teks, komentar media sosial, atau grup daring. Orang tua perlu terlibat dalam dunia digital/online anak ~bukan dengan cara memata-matai, tetapi dengan membangun kepercayaan. Ajak anak untuk berdiskusi tentang etika berinternet, pentingnya menjaga privasi, dan bagaimana menghadapi komentar negatif. Anak harus tahu bahwa mereka tidak sendirian jika mengalami cyberbullying.

  • Menjadi Teladan Terbaik bagi Anak

Yang paling ideal adalah, anak belajar dari apa yang mereka lihat, di mana mereka akan mencontoh dari sana. Jika orang tua sering merendahkan orang lain, bersikap kasar, atau perilaku buruk lainnya, maka anak bisa meniru perilaku tersebut. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan sikap hormat, sabar, dan adil, maka anak akan lebih mudah meniru dan mengaplikasikan nilai-nilai positif dalam hidup keseharian mereka.

  • Perkuat Rasa Percaya Diri anak, dengan cara:

–  mengakui kelebihan dan kekuatan anak

–  memberi pujian yang tulus atas usaha, bukan hanya hasil

–  mendorong anak untuk ikut kegiatan yang sesuai minatnya

Rasa percaya diri yang kuat akan menjadikan anak-anak kita lebih mampu menghadapi tekanan sosial dan tidak mudah menjadi target intimidasi.

Mencegah Anak Menjadi Pelaku Bullying

Tak hanya menjadi korban bully, anak juga berpotensi untuk menjadi pelaku bullying, dengan berbagai alasan/penyebab, misalnya: ingin diterima oleh kelompok tertentu, atau karena meniru perilaku yang mereka lihat di rumah. Oleh karenanya, orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda seperti:

–  anak sering merendahkan orang lain

–  suka mengontrol atau memerintah teman-temannya

–  tidak menunjukkan penyesalan setelah menyakiti orang lain

Apabila tanda-tanda ini muncul, maka segeralah berdialog dan mencari bantuan profesional jika diperlukan.

Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah

Perbuatan membully dan/atau dibully bukan hanya tugas sekolah, tetapi tanggung jawab bersama antara guru, orang tua, dan masyarakat. Orang tua memiliki peran sentral dalam membentuk karakter anak agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat, empatik, dan berani bersikap adil.

Komunikasi yang terbuka dan hangat, keteladanan yang baik, dan pembekalan keterampilan sosial, adalah hal-hal yang diperlukan agar anak-anak lebih siap menghadapi tantangan di sekolah. Jangan sampai menjadi korban, dan jangan pula menjadi pelaku.

Fikar School

Leave your thought