Apa pun sebutannya, dan bagaimana pun orang-orang di luar sana memperlakukannya, ABK (anak berkebutuhan khusus) merupakan ‘titipan’ Tuhan kepada para orang tuanya masing-masing. Ada cinta yang tak terukur dan perjuangan yang tak terlihat dari orang tua mereka. Bukan hanya ayah dan ibunya, para ‘orang tua’ tersebut adalah (juga) para guru, terapis, motivator, dan pelindung yang tak kenal lelah, yang dapat membuat para ABK itu tersenyum. Para orang tua inila yang memilih untuk menjadi cahaya bagi anak-anak itu, di dunia yang masih belum sepenuhnya ramah terhadap perbedaan dan ‘keterbatasan’. Berikut ini beberapa Kisah para Orang Tua Hebat yang mempunyai Anak Berkebutuhan Khusus yang dengan sabar dan ketelatenannya merawat dan memberikan kasih sayangnya kepada anak berkebutuhan khusus.
Dari ‘Kegelapan’ menuju ‘Cahaya’, dari Ketidaktahuan menuju Pemahaman
Para orang tua yang tidak pernah menyangka akan ‘dititipi’ ABK oleh Tuhan yang Maha Kuasa, awalnya merasa bingung, takut, bahkan terpukul saat mengetahui bahwa anak mereka memiliki kebutuhan khusus (seperti autis, ADHD, disleksia, down syndrome, cerebral palsy, atau gangguan perkembangan lainnya). Namun, alih-alih menyerah, mereka memilih untuk belajar. Mereka membaca buku, mengikuti seminar, bergabung dengan komunitas, dan berdiskusi dengan para ahli untuk memperdalam wawasan serta pemahaman mereka.
Bu Rina dari Bandung, misalnya, beliau memiliki anak yang didiagnosa ‘autis’ di usia 3 tahun. Dunia serasa runtuh, setidaknya itulah yang beliau rasakan. Akan tetapi, kini, beliau mampu menerapkan terapi perilaku di rumah, membuat jadwal visual, dan bahkan mengajarkan anaknya berkomunikasi lewat metode PECS (Picture Exchange Communication System). “Saya bukan terapis profesional, tapi saya adalah seorang ibu yang takkan pernah berhenti belajar demi anak saya,” ujarnya.
Mungkinkah Orang Tua menjadi Terapis untuk Anaknya Sendiri?
Tidak semua keluarga mampu mengakses ataupun menjalani terapi (dengan terapis profesional) secara intensif, setiap hari. Maka di sinilah peran orang tua menjadi teramat penting. Agar anak-anak ABK tersebut bisa mendapatkan terapi yang dibutuhkan, para orang tua dapat menjadi ‘terapis’ untuk anak-anak mereka masing-masing.
Baca juga : Sekolah Merdeka Jakarta
Beberapa hal kecil yang tidak terlalu membutuhkan effort yang sangat besar dapat mereka lakukan. Di antaranya seperti, misalnya, mengubah ruang tamu menjadi ruang terapi, menjadikan waktu bermain sebagai sesi stimulasi, dan menjadikan rutinitas harian sebagai latihan keterampilan hidup.
Bapak Andi, seorang ayah dari anak dengan ‘cerebral palsy’, bahkan mempelajari teknik fisioterapi dasar agar bisa membantu anaknya berlatih motorik kasar di rumah. “Setiap gerakan kecil yang berhasil dilakukan anak saya adalah kemenangan besar bagi kami,” ujarnya.
Dukungan Emosional yang Totalitas
Anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan dukungan emosional yang ‘full’ dan konsisten, lebih dari sekadar latihan dan terapi. Di sinilah cinta orang tua menjadi kekuatan utama. Mereka hadir saat anak sedang sedih, ketika sedang tantrum, saat anak merasa frustrasi karena tidak bisa mengungkapkan perasaan, dan saat dunia tidak ada yang peduli dengan mereka, asyik dengan urusannya sendiri (masing-masing) dan terlalu asing.
Orang tua sudah seharusnya menjadi tempat yang paling aman, paling nyaman bagi anak-anaknya, menjadi penerjemah dunia, dan menjadi penyemangat utama. Para orang tua harus tahu bahwa perkembangan anak tidak bisa diukur dengan standar ‘normal’ umum, melainkan dengan tekad juang dan ketekunan yang tidak kenal lelah ataupun menyerah kalah.
Harapan yang selalu Membara
Walaupun jalan yang harus ditempuh itu penuh tantangan, para orang tua ini tidak boleh kehilangan harapan. Mereka merayakan setiap kemajuan kecil, dari anak yang mulai bisa kontak mata, hingga anak yang akhirnya bisa menyebut “Ayah” atau “Ibu” untuk pertama kalinya. Mereka tahu bahwa keajaiban tidak selalu datang dalam bentuk yang terlihat besar atau tampak jelas, namun ia hadir dalam pelukan hangat setelah hari yang berat.
Menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus memang bukan perkara yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Karena Tuhan tidak mungkin ‘menitipkan’ hamba-Nya kepada orang yang salah. Dengan cinta, ketekunan, dan semangat belajar, maka para orang tua ini dapat membuktikan bahwa mereka bisa menjadi terapis terbaik bagi anak-anaknya sendiri. Mereka adalah bukti nyata bahwa kasih sayang bisa mengubah dunia, setidaknya dunia kecil yang sangat berarti bagi sang anak.
Salam hormat buat para Orang Tua Hebat yang dari keterbatasan dengan izin Allah bisa mengubah menjadi anak-anak hebat.